Ketika Healing Menggeser Tujuan: Fenomena Pelarian yang Mengubah Arah Hidup Anak Muda

Dalam beberapa tahun terakhir, kata healing banyak digunakan dalam percakapan sehari-hari untuk menjadi istilah yang begitu dekat dengan kehidupan anak muda, terutama mahasiswa. Secara umum, Healing dimaknai sebagai proses untuk menenangkan pikiran, mengurangi stress, memulihkan keseimbangan emosional, serta meredakan tekanan akademik. Dengan kata lain, healing bertujuan untuk memperbaiki diri dan juga menjaga kesehatan mental yang mana memang menjadi suatu kebutuhan yang relevan bagi mahasiswa.

Namun, meskipun healing memiliki tujuan yang positif, tetapi ini tidak selalu berjalan sebagaimana mestinya, yang perlu diperhatikan adalah bagaimana kegiatan healing ini tidak berpotensi untuk berkembang menjadi kebiasaan yang justru menggeser tujuan utama sesorang, khususnya mahasiswa. Banyak mahasiswa yang awalnya melakukan healing untuk memulihkan diri, tetapi lama kelamaan aktivitas ini justru menjadi bentuk pelarian yang menjauhkan mereka dari komitmen awal, yakni belajar dan mengembangkan diri. 
 


Pada awalnya, healing dilakukan sebagai upaya untuk mengambil jeda. Seseorang merasa kelelahan karena tugas menumpuk, jadwal kuliah padat, organisasi menuntut banyak waktu, dan pikiran terasa sesak. Istirahat sejenak adalah hal yang wajar dan manusiawi. Namun masalah muncul ketika istirahat itu bukan lagi bentuk pemulihan, tetapi menjadi kebiasaan yang diprioritaskan dibandingkan tanggung jawab utama. Seseorang mulai berkata, aku membutuhkan healing sebelum mengerjakan tugas, tetapi healing itu tidak lagi terbatas pada satu atau dua jam untuk menenangkan pikiran. Ia berkembang menjadi kebiasaan scroll media sosial berjam-jam, nongkrong tanpa arah, bepergian tanpa rencana, atau terlibat dalam kegiatan konsumtif yang memberikan kesenangan sesaat. Healing yang awalnya merupakan jeda kecil kini berubah menjadi gaya hidup yang memakan porsi waktu lebih banyak dari kegiatan yang seharusnya menjadi prioritas.

Perubahan ini terjadi karena healing sering dimaknai dalam budaya populer sebagai cara untuk menghindari ketidaknyamanan. Ketika seseorang menghadapi tugas sulit atau tekanan akademik, healing menjadi alasan untuk menunda. Ketika seseorang merasa tidak percaya diri dalam kelas atau merasa kalah saing, healing menjadi pintu keluar yang paling mudah. Akibatnya, healing tidak lagi berfungsi sebagai proses pemulihan, melainkan sebagai mekanisme menghindar. Padahal, menghindar tidak pernah meyelesaikan masalah malah sebaliknya, hal ini justru membuat beban yang harus dihadapi di kemudian hari yang semakin menumpuk.

Situasi ini menjelaskan mengapa banyak mahasiswa yang awalnya memiliki visi yang jelas tentang studinya, misalnya ingin lulus tepat waktu, ingin masuk organisasi untuk menambah relasi, atau ingin mengejar bidang riset tertentu justru kehilangan arah setelah terlalu sering melakukan healing tanpa kesadaran. Healing kemudian menjadi semacam alasan atau “jurus pembenaran” untuk menunda tanggung jawab. Kehadiran rasa nyaman dari aktifitas ini menciptakan sensasi bebas dari tuntutan, namun kenyamanan tersebut menipu. Ia memberi ilusi bahwa keadaan sedang membaik, padahal tugas, tanggung jawab, dan tekanan justru sebenarnya terus menumpuk di belakang, siap menghantam kapan saja.

Di sinilah letak persoalannya, banyak orang mengira bahwa healing selalu berarti menjauh dari stres. Padahal, dalam pemulihan yang sejati menuntut seseorang untuk menghadapi, memahami, dan mengelola stres itu. Healing bukan tentang melarikan diri dari perasaan tidak nyaman, tetapi tentang belajar untuk menoleransi perasaan dan menghadapinya tanpa kehilangan kendali. Jika seseorang terus-menerus menghindari setiap ketidaknyamanan, ia tidak akan pernah membangun ketahanan mental. Tanpa ketahanan, ia mudah terbawa arus oleh rutinitas yang seharusnya dihadapinya.

Dalam konteks mahasiswa, ini tampak dari seringnya muncul rasa tidak mampu, kehilangan motivasi, dan perasaan kosong meski telah melakukan banyak kegiatan untuk menyenangkan diri. Ketika healing menjadi prioritas lebih tinggi daripada tujuan awal seperti kuliah, maka arah hidup perlahan bergeser. Tujuan yang tadinya jelas menjadi kabur, semangat belajar meredup dan target akademik maupun rencana masa depan tidak lagi menjadi pegangan, melainkan sesuatu yang dihindari. Dalam kondisi ini, seseorang mungkin terlihat santai dan damai, tetapi sebenarnya ia sedang menjauh dari versi terbaik dirinya. Healing yang salah arah justru tidak menyembuhkan luka, melainkan memperluas ruang kosong dalam diri.

Pemulihan sejati terjadi ketika seseorang mau menghadapi dirinya sendiri tanpa topeng dan tanpa kebutuhan untuk dilihat orang lain. Healing tidak harus indah di mata orang lain, ia tidak harus dibingkai, direkam, atau dibagikan. Healing adalah perjalanan yang sunyi, penuh ketidakteraturan, tetapi justru di situlah letak keindahannya. Healing yang benar bukan hanya sekedar menenagkan diri sesaat, tetapi membangun fondasi bagi versi diri yang lebih kuat, tangguh, dan penuh arah. Saat healing dijalani dengan benar, ia bukan lagi pelarian, melainkan bagian dari perjalanan menuju kehidupan yang lebih bermakna dan tujuan yang lebih jelas.

Komentar